Minggu, 08 November 2015

Ngomongin Tentang Demografi

Ada yang tau tentang demografi?? Santai.... santai.... ini bukan ilmu atau adab sopan santun waktu demo. Jadi siang ini ceritanya hujan dan gue dapet tugas geografi, terus diposting di blog. Sebenernya ini agak melenceng dari tema blog gue sih. Tapi apa daya, tai kucing rasa cokelat. Itu tai apa cokelat, ya?? Bedain tai kucing sama cokelat aja susah. Wah, pantesan kemaren gue nemuin ada chunky bar di tengah jalan.


Itu bukan saya yang nulis, Zah. Beneran, ini tadi jari saya yang nakal, tiba-tiba ngetik “tai” gitu. Jari saya memang nakal, kadang suka masuk hidung, terus mengorek segala kekayaan yang terpendam di hidung saya.

Oke, kayaknya udah terlalu jauh ngaconya. Hari ini gue lagi sekolah di SMA SMART 1 Bogor. Gue disuruh nyari sebuah artikel tentang demografi. Terus apa yang gue lakukan??  Yak!! benar, gue masuk ke dalam kelas. Karena dari tadi gue duduk di depan kelas, sambil mainan leptop. Mirip kayak pengemis di masa yang akan datang.

Gue cari dan terus mencari. Mendaki gunung, lewati lembah, berenang melintasi samudera, ketemu Deni manusia ikan, dan akhirnya gue dapet. Bukan, gue cowok, nggak mungkin gue dapet. Jadi gue nemu sebuah artikel yang menarik di www.bbc.com.

Setelah gue baca dengan posisi yang enak (ya, jongkok), ini nih yang masuk otak gue:

1. Tingginya angka kematian bayi di Papua.
2. Karena terlalu tinggi, jadi dibutuhkan tangga kalo mau metik buahnya (lupakan yang ini).
3. Angka kematian bayi di Papua tiga kali lipat dibandingkan Jakarta.
4. Indonesia kini mencatat 27 kematian bayi per 1000 kelahiran. (siapa yang nyatat?)
5. Tingginya angka kematian di pelosok.
6. Banyak yang meninggal karena kekurangan gizi kronis (setahu gue, yang ada itu brownis).

Ternyata mengejutkan ya. Kasihan bayi-bayinya, mereka belom pernah main ps. Eh, maksud gue, belom lama ngerasain kasih sayang orang tuanya. #BiarKeliatanKayakPsikolog

Kira-kira kenapa bisa gitu ya?? Banyak faktornya, bisa jadi karena faktor lingkungan. Karena mereka tinggal di pelosok, kemungkinan mereka tinggal di lingkungan yang nggak layak. Bisa juga karena faktor asupan gizi, karena mereka tinggal di pelosok, jadi kebutuhan gizi mereka tidak tercukupi. Padahal seharusnya gizi mereka dapat tercukupi karena sangat berpengaruh untuk kehidupan mereka.

Tapi, katanya pemerintah akan berusaha menurunkan angka kematian bayi ini. Dan tentunya pemerintah nggak bisa ngelakuin semuanya sendiri, butuh bantuan dan aspirasi dari rakyat. #SokBijak


Nah, jujur sebenernya  ini doang ini postingan yang ini. Karena salah satu syarat tulisannya itu minimal 400 kata, makanya gue tambahkan paragraf yang ini. Oiya, karena udah lama nggak ngeblog, gue ngerasa punya utang sama pembaca-pembaca blog gue, jadi hari ini gue akan memposting 3 postingan. Masih ada 2 postingan request lagi. Ye a yaw!!!!

1 komentar:

  1. beberapa kali dapat cerita tentang daerah pelosok, apalagi pernah KKN ke daerah pelosok meskipun masih di pulau Jawa. Angka kematian bayi lebih banyak karena gizi buruk, kasihan banget .____.

    BalasHapus

Ada komentar yang ngucek-ngucek pikiran?? keluarin aja, tapi jangan lewat kentut. Tulis aja komentar kalian di sini. Komen Joss!! komentar harus ngotot, ngotot harus komentar.